Kontrakan. Selasa, 20 September 2005 (18:30)

Apa yang akan kamu lakukan … ?
Apa yang akan kamu lakukan, jika saat kamu sadar kamu terlahirkan, ternyata kamu mengidap hemofilia? Sejak kecil, RS sudah seperti rumah keduamu. Jarum suntik sudah seperti aksesoris bagimu. Hinaan dan ejekan sudah menjadi makanan harianmu.
Di sekolah, angka merah di rapor, sudah biasa bagimu. Menjadi orang terakhir menyelesaikan ujian, juga sudah biasa. Tinggal kelas karena harus dirawat di rumah sakit, juga sudah biasa bagimu. Apa yang akan kamu lakukan, jika kamu mengalaminya?

Sejak kecil, kamu selalu bertanya pada ibumu, apakah kamu bisa menjadi dewasa. Dan ibumu akan berkata, bahwa kamu bisa menjadi dewasa. Tapi, kamu tidak akan tahu, seberapa dewasa yang bisa kamu capai.

Apa yang akan kamu lakukan, setelah dewasa, ternyata kamu dihinggapi HIV? Bukan karena kesalahanmu, atau ibumu, ataupun dokter, yang menyuntikkan darah untukmu, yang ternyata terkontaminasi HIV. Padahal, selama ini, kamu merasa sudah menjadi anak yang baik, tidak sembarangan bergaul, dan bahkan tidak pacaran. Kamu akan bertanya, mengapa Tuhan memberikan begitu banyak penderitaan bagimu. Bukankah sebaiknya kamu tidak dilahirkan. Atau, sebaiknya ibumu tidak merawatmu sejak kecil. Membiarkan kamu mati saja… Sehingga, kamu tidak perlu semenderita ini. Begitu banyak umatnya, tapi kamu yang Ia pilih untuk menanggung semua penyakit ini. Mengapa?

Sejak saat itu, kamu memiliki mangkok dan sumpit sendiri. Adikmu tidak boleh memakai sikat gigimu lagi. Adikmu juga tidak boleh memakan apel bekas gigitanmu.
Ibu selalu berkata, agar kamu tetap tegar, dan jangan berhenti berharap, bahwa suatu saat akan ditemukan obat untuk penyakitmu. Mukjizat itu mungkin saja datang. Namun, kamu selalu mempertanyakan kata ‘mungkin’, yang berarti belum pasti. Mulai saat itu, satu hari saja sangat berarti bagimu. Lalu, apa yang akan kamu lakukan, pada setiap hari-harimu, sambil menunggu datangnya hari itu?

Ibu juga selalu berkata, kalau ia lebih sedih lagi, jika aku bersedih. Ia juga berkata, bunuh dirilah, jika kamu ingin membunuhnya terlebih dahulu.

Kamu merasa duniamu sempit sekali. Kamu hanya menulis cerita seputar rumah sakit. Namun, kamu bukanlah orang termalang sedunia. Sahabat serumah-sakitmu itu… malah tidak mempunyai dunia sama sekali. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di rumah sakit. Sedangkan kamu… kamu masih bisa bersekolah. Bahkan, kamu masih sempat mencicipi bangku kuliah.
Perlahan, kamu mulai bisa menerima fakta bahwa kamu mengidap AIDS. Kamu pun kembali lincah seperti dulu. Kamu mulai menghargaimu hidupmu…

Perasaan menghargai hidupmu ternyata telah menyadarkan orang lain. Dan menjadikannya sahabat baikmu. Sahabat, yang sebelumnya, merasa menjadi orang termalang sedunia, yang selalu mendapat ejekan karena sudah tidak naik kelas 2 kali.

Kamu berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Kamu lebih suka orang lain menertawaimu, daripada membuat orang lain menangis. Jadi… tidak banyak sahabatmu yang tahu, bahwa kamu adalah seorang ‘pesakit’.

Kamu selalu memakai baju lengan panjang di musim panas. Orang-orang mengatakan kamu banyak gaya. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu, kalau di tanganmu, banyak bintik-bintik hitam bekas suntikan. Mereka menganggap kamu sebagai penjilat para guru. Tapi mereka juga tidak tahu. Mereka tidak tahu, kalau itu sekedar sebagai rasa terima kasih. Guru-gurumu telah rela memberi waktu lembur demi mengajarmu.

“Aku tidak membutuhkan belas kasihan, aku hanya membutuhkan sahabat”

Sejak kecil, paman serumah-sakitmu sudah menjadi sahabatmu. Ia sungguh berhati mulia. Ia rela sumsum tulangnya diambil, untuk dipelajari oleh para dokter. Meskipun terasa sakit sekali… Ia pernah berkata, bahwa setidaknya orang lain bisa memperoleh manfaatnya. Saat penyakitnya mulai parah, kamu berbalik bercerita untuknya. Tampak olehmu, senyum bahagianya… Ia bahagia melihatmu bisa tumbuh dewasa dan lincah. Ia sangat bahagia…
Paman juga selalu bercerita untukmu dan sahabat-sahabatmu.

“Dulu ada sejumlah pejuang yang pemberani. Mereka berjuang demi nyawa. Musuh terbesar mereka adalah ‘Dewa Kematian’. Tapi mereka memiliki banyak akal. Selalu cepat beradaptasi. Mereka tidak pernah menggunakan jurus yang sama untuk melawan si ‘Dewa Kematian’. Karena di kesempatan kedua, mereka pasti punya cara untuk menyerang balik”.
Ternyata, kita juga bisa membuat mukjizat… Cahaya putih, menyilaukan, menyusupi lubang kecil, dari kertas hitam yang kamu tempel di jendela, menyinari-Nya. Ya… kamu juga bisa membuat mukjizat. Sesaat setelah itu, ibumu mengabarkan bahwa sahabat serumah-sakitmu, baru saja meninggal. Kamu hanya termenung, membayangkan kapan giliranmu tiba. Keraguan akan mukjizat kembali hinggap di hatimu. Lantas, apa yang dimaksud dengan mukjizat, pikirmu.
Kamu tidak boleh rendah diri. Walau apapun keadaannya, kamu tetap tidak boleh. Ingatkah kamu, ternyata saat kamu berani, berani mencoba bermain basket dengan anak-anak yang jauh lebih pandai darimu, dan ternyata saat-saat itulah yang menjadi awal persahabatan kalian.

Kamu mencintai wanita itu. Tapi, ia tidak tahu, kalau hidupmu tidak lama lagi. Dengan polosnya, ia berjanji akan memainkan piano untukmu, saat sepulang sekolah di Inggris. Saat itu, kamu telah mengucapkan selamat tinggal padanya. Itulah terakhir kali kamu melihat punggungnya.

Kamu masih sedang mengajari adikmu, untuk memberikan bunga anyelir pada ibumu, setiap hari ibu. Hari ini, kamu memberikan bunga anyelir padanya. Tapi, belum… hari ibu masih lama. Kamu hanya takut, kalau ternyata kamu tidak bisa bertahan selama itu. Ibumu menangis di depanmu. Saat itu, kamu merasa, kalau ibumu sedih, maka kamu akan lebih sedih lagi.

Kamu tidak akan pernah lagi menyalahkan Tuhan. Kamu merasa, bahwa Ia selalu berada di sisi-Mu.

Kamu baru menyadari, bahwa ternyata kamu dilahirkan di dunia ini, karena ada tugas yang harus kamu selesaikan. Ia memberimu tugas, untuk menulis. Menulis agar pandangan semua orang-orang di dunia berubah. Agar mereka menyadari, bahwa ‘pesakit’ adalah juga manusia. Sama seperti mereka, adalah orang-orang yang membutuhkan kasih sayang.

Kata penerbit, kamu sudah punya banyak pembaca. Dan kamu telah merubah pandangan orang yang selama ini menghina penyakit AIDS. Dulu, kamu selalu berpikir, bahwa Tuhan akan memberikan mukjizat dengan menyembuhkanmu. Tapi kamu tidak sadar, bahwa inilah mukjizat yang selama ini kamu nanti. Mukjizat yang selama ini kamu pertanyakan. Dan, mukjizat itu sudah datang. Kamu telah berhasil melakukannya…

Ibumu-lah sosok terpenting dalam hidupmu. Selalu mendampingimu hingga saat-saat terakhirmu. Ibumu-lah juga yang mengajarkan banyak hal kepadamu. Ia manusia paling tegar yang pernah kamu lihat.

Asal tahu saja, semua orang akan mati, tapi matilah dengan memiliki harga diri. Saat semua orang memandangimu, seorang ‘pesakit’, jangan tundukkan kepalamu. Pandanglah kembali mereka. Tidak perlu merasa rendah diri hanya karena kamu menjadi si ‘pesakit’. Mereka hanya jarang melihat orang yang berbeda dari orang pada umumnya. Pandanglah mereka kembali, dan tersenyumlah… karena… semua orang punya harga diri, yang ditentukan oleh dirinya sendiri…

Satu hal yang perlu kamu tahu, hidup itu tidak dipandang dari singkat atau lamanya waktu kita di dunia. Bila kita bisa menghargai hidup dan waktu yang ada, maka hidup itu tidak sia-sia. Itulah makna hidup sebenarnya…

Setelah kamu pergi, ibumu mulai menulis. Ibumu bukanlah menyiksa diri sendiri. Ibumu hanya menyesal, karena tidak mendukungmu menulis saat kamu ada. Ibumu menulis, hanya karena ingin melanjutkan impianmu.

Ibumu merasa kamu selalu ada di sampingnya… Sangat nyata… Ibumu selalu bisa melihatmu… Semangat hidupmu juga selalu diingat sahabat-sahabatmu…

“Forever and Ever”
One of the best films I’ve ever watched.
I’m still saving it, and I will …

Want to borrow it?


0Comments:

Post a Comment

<< Home